Pendapat Saya Soal Oshi no Ko

Halo teman-teman. Kali ini saya ingin membahas salah satu manga yang akhirnya berhasil saya tamatkan, yaitu Oshi no Ko. Tapi perlu saya tekankan dulu, yang saya tamatkan adalah versi manga. Untuk versi anime, saya belum tahu apakah nantinya akan benar-benar sama persis dengan manga atau akan ada beberapa perubahan dalam adaptasinya. 

Yang jelas, pengalaman membaca manga Oshi no Ko ini cukup membekas buat saya, terutama karena temanya sangat dekat dengan dunia hiburan, idol, akting, kebohongan, dan sisi gelap industri yang sering tidak terlihat dari luar.

Saya sendiri membeli manga Oshi no Ko versi bahasa Indonesia sekitar Juli 2025. Meski cetakan awalnya sudah ada sejak 2022, saya baru benar-benar mengikutinya belakangan. Dan akhirnya, versi bahasa Indonesia tamat di Volume 16 pada April 2026. 


Rasanya agak aneh juga ketika menamatkan cerita yang dari awal sudah punya aura gelap, tapi tetap dibungkus dengan visual yang cantik dan dunia idol yang terlihat berkilau. Sebagai seorang wota, tema yang diangkat Oshi no Ko jelas menarik buat saya. Karena di balik panggung yang penuh cahaya, senyum idol, dan lagu-lagu yang menyenangkan, ada sisi industri hiburan yang penuh tekanan, manipulasi, kebohongan, dan luka batin.

Salah satu hal paling kuat dari Oshi no Ko adalah bagaimana cerita ini membongkar kebusukan dunia hiburan. Dunia entertainment di sini tidak digambarkan sebagai tempat impian yang indah saja. Ada eksploitasi, tekanan publik, kebencian online, ambisi manajemen, fans yang obsesif, sampai hubungan palsu yang dibangun demi citra. Menariknya, semua itu tidak disampaikan dengan cara ceramah, tapi lewat perjalanan karakter-karakternya yang rumit.

Karakter pertama yang jelas harus dibahas adalah Aqua Hoshino. Aqua adalah reinkarnasi dari Gorou, seorang dokter yang dulunya mengidolakan Ai Hoshino. Setelah terlahir kembali sebagai anak Ai, hidup Aqua berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap setelah tragedi besar menimpa ibunya. 

Dari situ, Aqua tumbuh sebagai karakter yang berpusat pada rasa dendam. Dia bukan protagonis romansa atau karakter utama shounen yang penuh semangat. Aqua terasa lebih seperti manusia dingin yang hidupnya digerakkan oleh satu tujuan: mencari kebenaran dan membalas dendam.

Yang membuat Aqua menarik adalah cara dia memandang dunia. Dia tidak lagi melihat dunia hiburan sebagai tempat mimpi, tapi sebagai arena penuh kebohongan yang bisa ia gunakan untuk mencapai tujuannya. Dia pintar, manipulatif, dan sering kali terlihat tidak benar-benar menikmati masa mudanya. Aqua seperti orang yang hidup, tapi tidak benar-benar hidup. 

Semua langkahnya terasa dihitung. Semua hubungan bisa menjadi alat. Dan itu membuatnya menjadi karakter yang tragis, karena sebenarnya dia punya kesempatan untuk hidup normal, tapi dirinya terlalu terikat dengan masa lalu.

Lalu ada Ruby Hoshino, yang menurut saya adalah salah satu karakter dengan perkembangan paling ekstrem di manga ini. Ruby adalah reinkarnasi dari Sarina, pasien Gorou yang dulu sangat mengidolakan Ai. 

Di awal cerita, Ruby terlihat seperti karakter yang ceria, optimis, dan penuh mimpi. Dia ingin menjadi idol seperti ibunya, ingin bersinar di panggung, dan terlihat sebagai karakter yang membawa energi positif. Tapi semakin cerita berjalan, Ruby berubah menjadi sosok yang jauh lebih gelap.

Perubahan Ruby menurut saya sangat kuat karena dia tidak hanya membawa luka sebagai anak Ai, tapi juga luka dari kehidupan lamanya sebagai Sarina. Sarina adalah karakter yang mewakili kesepian dan pesimisme. 

Dia sakit, kesepian, dan orang tuanya bahkan tidak benar-benar hadir untuknya. Hubungan Sarina dan Gorou juga lebih dari sekadar pasien dan dokter. Gorou adalah salah satu sedikit orang yang memberinya harapan. Maka ketika Ruby mengetahui kenyataan tentang Gorou dan Ai, rasa sakitnya menjadi berlapis. Dia bukan hanya kehilangan ibu, tapi juga kehilangan sosok yang dulu menjadi pegangan hidupnya.

Inilah yang membuat Ruby menarik. Dia awalnya tampak seperti kebalikan Aqua: cerah, penuh harapan, dan ingin menjadi idol. Tapi pada akhirnya, dia juga jatuh ke dalam kegelapan yang sama. Dia menyimpan dendam kepada orang yang menghancurkan hidup Gorou dan Ai. Dari sini, Oshi no Ko menunjukkan bahwa senyum idol bisa saja menyembunyikan luka yang sangat dalam.

Namun, kalau ditanya siapa karakter favorit saya, jawabannya jelas: Kana Arima. Kana mungkin bukan karakter dengan perkembangan paling drastis, tapi dia punya daya tarik yang sangat manusiawi. Dia adalah mantan aktris cilik yang dulu sangat berbakat, tapi kemudian harus menghadapi kenyataan pahit ketika popularitasnya menurun. Kana punya mulut yang pedas, sering sinis, dan mudah iri. Tapi justru di situlah letak menariknya. Dia terasa nyata.

Kana mewakili rasa iri, rasa gagal, dan daya juang. Dia iri dengan pencapaian Akane di dunia akting, dia kesal ketika merasa dirinya tertinggal, tapi dia tetap berusaha. Kana bukan karakter yang selalu manis atau sempurna. Dia bisa menyebalkan, bisa keras kepala, tapi dia juga sangat tulus.

Perasaannya kepada Aqua juga menjadi salah satu bagian yang membuat karakternya terasa sedih. Dia suka Aqua, tapi pada akhirnya tidak ada yang benar-benar “menang” dalam hubungan itu. Dan menurut saya, itu cukup realistis untuk dunia Oshi no Ko yang memang jarang memberi kebahagiaan secara cuma-cuma.

Karakter lain yang tidak kalah penting adalah Akane Kurokawa. Di awal, Akane mungkin terlihat seperti heroine biasa. Dia berpacaran dengan Aqua dan seolah menjadi bagian dari konflik romansa. Tapi lama-lama, Akane berkembang menjadi karakter yang jauh lebih kompleks. 

Dia sangat cerdas, observatif, dan punya kemampuan memahami orang lain sampai level yang menyeramkan. Bahkan, dalam urusan strategi dan “cara membalas dendam”, Akane bisa menandingi Aqua.

Akane menarik karena dia tidak hanya menjadi korban atau pendukung Aqua. Dia punya pikirannya sendiri. Dia bisa sangat manipulatif jika memang diperlukan. Kalau Aqua adalah karakter yang membalas dendam dengan dingin, Akane adalah karakter yang mampu memahami cara kerja dendam itu dan ikut bermain di dalamnya. Bagi saya, Akane adalah salah satu karakter yang membuat konflik psikologis Oshi no Ko semakin kuat.

Dan tentu saja, pusat badai dari semua cerita ini adalah Ai Hoshino. Ai adalah idol yang awalnya hanya seorang anak yatim sebelum akhirnya masuk ke dunia idol dan menjadi simbol kebohongan yang indah. Ai hidup dengan kebohongan. 

Dia berbohong bahwa dia mencintai fansnya. Dia berbohong lewat senyum, lewat panggung, lewat citra idol yang sempurna. Tapi yang menarik, kebohongan bagi Ai bukan sekadar kepalsuan. Kebohongan adalah caranya mencari cinta.

Tema “kebohongan” memang menjadi inti utama Oshi no Ko. Idol berbohong agar fans bahagia. Aktor berbohong agar penonton percaya. Dunia hiburan berbohong agar produk tetap laku. Bahkan hubungan antar karakter juga sering dibangun di atas kebohongan, setengah kebenaran, dan hal-hal yang tidak pernah diucapkan. 

Dibungkus dengan tema reinkarnasi, Oshi no Ko menjadi cerita yang unik: di satu sisi terasa seperti drama supernatural, tapi di sisi lain sangat dekat dengan realitas industri hiburan.

Namun, saya harus jujur soal ending-nya: saya kurang puas. Meskipun Kamiki akhirnya mati, keputusan Aqua untuk ikut mati terasa menyakitkan sekaligus membuat saya bertanya-tanya. Aqua sebenarnya masih bisa menikmati masa remajanya. Dia masih bisa hidup, memperbaiki hubungan, dan keluar dari bayang-bayang dendam.

Tapi sejak awal, mungkin Aqua memang sudah terlalu jauh tenggelam. Dia tidak pernah benar-benar memberi dirinya kesempatan untuk bahagia.

Bagi saya, ending ini tragis, tapi belum tentu memuaskan. Saya mengerti maksud ceritanya: Aqua adalah karakter yang hidup untuk membalas dendam, dan ketika dendam itu selesai, hidupnya seolah kehilangan arah. Tapi tetap saja, sebagai pembaca, saya ingin melihat dia memilih hidup. Setelah semua penderitaan, rasanya saya ingin melihat Aqua benar-benar bebas.

Pada akhirnya, Oshi no Ko adalah manga yang kuat, gelap, dan menarik. Ceritanya bukan hanya tentang idol cantik atau drama reinkarnasi, tapi tentang dunia hiburan yang penuh kebohongan, manusia yang terluka, dan orang-orang yang berusaha mencari cinta dengan cara yang salah. Sebagai wota, saya merasa manga ini memberi sudut pandang yang cukup tajam tentang dunia yang sering terlihat indah dari luar.

Apakah saya puas sepenuhnya? Tidak. Tapi apakah Oshi no Ko layak dibaca? Jelas iya. Karena meski ending-nya terasa pahit, perjalanan menuju akhir itu tetap meninggalkan banyak hal untuk dipikirkan.

Posting Komentar

0 Komentar