"Biryani": lagu Nogizaka yang paling beda

 Tadi malam (22 November 2025) Nogizaka46 baru saja merilis MV untuk single ke-40 mereka, “Biryani”. Awalnya aku cuma iseng nonton karena rame banget dibahas di X (Twitter), katanya ini salah satu konsep MV mereka yang paling “berbeda”. Setelah nonton, kesan pertamaku cuma satu: “Oke, ini bagus.” Gak sampai yang bikin aku ternganga banget sih, tapi aku bisa bilang MV-nya cukup menarik dan jelas punya arah konsep yang kuat.

Dari segi visual, aku akui Nogizaka kali ini berani banget ambil tema India. Warna-warninya mencolok, ornamen-ornamennya banyak, dan kostumnya (isshou) benar-benar menonjolkan nuansa Asia Selatan tapi tetap dengan aura khas Nogizaka gak hilang yang masih ada kesan lembut, sopan, dan elegan di tengah semua kemewahan itu. Mungkin karena mereka gak full tiru gaya India, tapi cuma mengambil beberapa elemen pentingnya seperti warna, kain, dan tarian, lalu dicampur dengan gaya Jepang yang lebih kalem.

Yang aku suka justru set tempatnya. Pemilihan lokasi di aula besar penuh ornamen emas, kain warna-warni, dan pencahayaan hangat itu bikin suasana MV-nya hidup banget yang bikin gak terasa murahan, tapi juga gak sampai terasa berlebihan. Production value-nya terlihat niat, tapi tetap nyaman dilihat. Kalau dibandingkan sama beberapa MV mereka sebelumnya yang konsepnya cenderung simpel atau terlalu simbolik, “Biryani” kelihatan seperti usaha untuk tampil beda tanpa kehilangan identitas.

Namun jujur aja kalau ngomongin soal feeling, aku pribadi masih lebih suka MV sebelumnya “Same Number.” MV itu menurutku lebih melankolis dan emosional, warnanya lebih kalem, pengambilan gambarnya lebih intim, dan nuansa lagunya benar-benar kena di hati. Sementara “Biryani” lebih ke arah “oke, keren, bagus secara teknis” tapi gak terlalu membekas kayak lagu yang kamu apresiasi karena keren, tapi gak kamu ulang terus-terusan di playlist.

Secara musikal, “Biryani” juga terasa menarik tapi tidak sampai mind-blowing ada unsur musik India yang kentara terutama di bagian intro dan instrumentasi latarnya dan ada tabla dan sitar yang bikin suasananya eksotis. Tapi secara keseluruhan, lagu ini masih terdengar seperti Nogizaka: pop lembut dengan harmoni vokal yang halus. Kalau boleh jujur buatku ini lebih ke experiment ringan mereka daripada perubahan besar, mereka coba sesuatu yang beda tapi masih di zona aman.

Yang menarik justru keberanian mereka mengambil tema yang tidak biasa di industri idol Jepang. Soalnya konsep India itu jarang banget dipakai, apalagi oleh grup besar seperti Nogizaka46 jadi wajar kalau banyak fans kaget. Tapi aku gak merasa ini bentuk kontroversi sih, lebih ke arah eksplorasi budaya aja kadang grup idol perlu sesuatu yang sedikit di luar kebiasaan untuk terlihat segar lagi. Kalau mereka terus main di tema “anggun dan biru lembut”, bisa-bisa penonton juga bosan.

Tapi di sisi lain, aku tetap penasaran apakah pemilihan tema India ini ada hubungannya dengan kondisi sosial belakangan. Soalnya di Jepang memang sempat ada berita soal meningkatnya imigran dari India, dan banyak yang bahas soal interaksi budaya dua negara ini bisa aja ini kebetulan atau bisa juga nggak. Tapi aku lebih suka berpikir positif: mungkin Nogizaka cuma pengin memperlihatkan kalau mereka bisa membawa warna baru dari budaya Asia lain tanpa harus kehilangan sentuhan Jepang-nya. Kalau memang begitu, aku rasa mereka berhasil.

Kalau soal konsep dan sinematografi aku kasih nilai 8/10, gak bisa dibilang luar biasa tapi solid. Semua bagian terasa rapi, koreografi juga pas  gak terlalu rumit tapi tetap menarik. Mungkin yang agak kurang di bagian emosi meskipun lagu ini cerah dan berenergi, aku gak ngerasa banyak “cerita” yang tersampaikan lewat ekspresi atau gestur para member. Rasanya lebih ke showcase visual daripada storytelling seperti “Synchronicity” atau “Same Number”.

Hal lain yang menarik buatku adalah bagaimana mereka menyeimbangkan dua identitas budaya di sini. Elemen India-nya kuat, tapi mereka masih mempertahankan bahasa tubuh dan gaya ekspresi idol Jepang. Misalnya gestur tangan mereka yang lembut dan senyum kecil yang khas itu gak berubah, jadi meski latarnya megah dan penuh warna, aura Nogizaka-nya tetap kerasa.

Kalau boleh membandingkan dengan grup idol lain, Hinatazaka46 misalnya MV “Biryani” ini terasa jauh lebih berani dari biasanya. Tapi aku pribadi masih punya favorit lain: MV “Kimi wa Honeydew” dari Hinatazaka46, entah kenapa buatku MV itu punya keseimbangan sempurna antara visual, musik, dan perasaan. Emosinya kena, warnanya lembut, dan setiap adegan terasa manis tapi gak maksa. Sementara “Biryani” lebih ke arah visual yang memukau tapi gak terlalu meninggalkan kesan mendalam. Jadi kalau disuruh milih, aku tetap bakal bilang “Kimi wa Honeydew” lebih aku nikmati.

Kesimpulannya, “Biryani” adalah MV yang menarik, tapi bukan sesuatu yang membuatku terpesona banget. Ini semacam langkah berani Nogizaka untuk keluar dari pola lama mereka, dan menurutku itu langkah yang bagus. Mungkin ini bukan MV terbaik mereka, tapi jelas menunjukkan bahwa grup ini masih mau bereksperimen di usia karier yang udah panjang banget. Kadang sebagai penggemar, aku lebih menghargai usaha seperti ini ketimbang sekadar pengulangan formula lama.

Jadi kalau kamu tanya pendapat jujurku: “Biryani” itu bagus, tapi nggak sampai bikin aku jatuh cinta. Tapi setidaknya, aku senang karena Nogizaka masih punya keberanian buat tampil beda di tengah dunia idol yang makin seragam. Siapa tahu, dari eksperimen seperti ini nanti lahir lagi sesuatu yang benar-benar “wah”.

Komentar