Ulasan Anime Anyway, I’m Falling in Love with You Season 1

 Jujur saja ini adalah pertama kalinya aku benar-benar duduk dan menonton anime dengan genre reverse harem secara serius. Selama ini aku lebih familiar dengan harem biasa, di mana satu cowok dikelilingi banyak cewek yang menurutku lebih mudah dinikmati dari sudut pandangku sebagai penonton laki-laki. Jadi ketika memulai Anyway, I’m Falling in Love with You Season 1, aku masuk dengan rasa penasaran sekaligus sedikit ragu: apakah aku bisa menikmati cerita di mana satu cewek menjadi pusat perhatian banyak cowok?

Setelah menonton seluruh season pertamanya, kesan jujurku adalah: anime ini bagus secara visual dan karakter, tapi secara emosional terasa agak kurang cocok untukku dan kadang terasa boring. Bukan berarti jelek, tapi lebih ke arah bukan target utama penonton seperti aku. Meski begitu anime ini tetap punya beberapa aspek menarik yang layak dibahas, terutama dari segi karakter dan struktur ceritanya.

Hal pertama yang langsung terasa unik dari anime ini adalah struktur waktunya. Cerita utama sebenarnya diceritakan dalam bentuk flashback ke masa SMA tahun 2020, sementara di awal atau akhir episode sering ditampilkan cuplikan masa depan ketika para karakter sudah dewasa dan bekerja. Ini memberi kesan bahwa kita sedang melihat kenangan masa muda mereka, masa ketika cinta pertama, mimpi, dan hubungan pertemanan masih terasa mentah dan emosional.

Pendekatan ini menurutku cukup efektif untuk membangun rasa nostalgia. Kita tahu bahwa hubungan mereka akan berubah di masa depan, tapi kita belum tahu bagaimana. Jadi setiap interaksi di masa SMA terasa punya bobot lebih, karena kita sadar bahwa ini adalah masa yang membentuk siapa mereka nantinya. Namun di sisi lain pacing ceritanya kadang terasa lambat, tidak banyak konflik besar yang langsung meledak melainkan lebih banyak momen kecil: percakapan, perasaan yang tidak diungkapkan, dan dinamika hubungan yang berkembang perlahan. Untuk penonton yang terbiasa dengan drama romantis yang lebih intens, ini bisa terasa agak membosankan.

  • Mizuho: Pusat Dunia yang Tidak Berlebihan

Sebagai karakter utama, Mizuho adalah pusat dari semua konflik dan hubungan dalam anime ini. Dia adalah tipe karakter yang periang, ramah, dan selalu berusaha membantu teman-temannya. Kepribadiannya tidak terasa dipaksakan atau terlalu sempurna, tapi cukup realistis sebagai seorang gadis SMA yang punya mimpi besar. Yang membuat Mizuho menarik adalah mimpinya untuk menjadi mangaka, ini memberi dia motivasi yang jelas dan membuat karakternya lebih dari sekadar “cewek yang dikejar banyak cowok.” Dia punya tujuan hidup, punya ambisi, dan itu membuatnya terasa sebagai karakter yang berdiri sendiri bukan hanya objek cinta.

Namun sebagai penonton laki-laki, aku merasa agak sulit untuk sepenuhnya terhubung dengan sudut pandangnya. Bukan karena karakternya buruk, tapi karena dinamika reverse harem membuat fokus cerita lebih pada bagaimana cowok-cowok di sekitarnya bereaksi terhadapnya bukan bagaimana dia secara aktif mengejar sesuatu dalam hubungan romantis.

  • Kizuki: Spotlight Utama dan “Pemain Depan”

Dari semua karakter cowok, Kizuki jelas yang paling menonjol. Dia adalah atlet renang dengan kepribadian yang jujur dan blak-blakan, sejak awal dia sudah berani mengatakan bahwa dia suka Mizuho sesuatu yang langsung memberinya keunggulan dibanding karakter lain. Kejujurannya ini membuat dia terasa seperti karakter yang “nyuri start.”, dia tidak ragu menunjukkan perasaannya dan ini membuat hubungan dia dengan Mizuho berkembang lebih cepat dibanding yang lain. Ada beberapa momen di mana terlihat jelas bahwa Mizuho mulai goyah atau “meleleh” karena sikap Kizuki yang lugas.

Menurutku Kizuki adalah karakter yang paling berpotensi menjadi “endgame.” Bukan hanya karena dia paling proaktif, tapi juga karena dia punya chemistry paling kuat dengan Mizuho, dia bukan hanya simbol cinta tapi juga simbol keberanian untuk mengungkapkan perasaan.

  • Shin: Penantang Dingin yang Mulai Bangkit

Kalau Kizuki adalah api, maka Shin adalah es. Dia pendiam, dingin, dan tidak banyak bicara tapi justru karena itulah kehadirannya terasa kuat. Dia tidak bersaing dengan cara yang sama seperti Kizuki, tapi perlahan menunjukkan bahwa perasaannya juga serius. Episode 8 sampai 11 menurutku adalah titik penting untuk karakter Shin, di sini dia mulai benar-benar “melawan” Kizuki bukan secara fisik tapi secara emosional. Dia mulai menunjukkan sisi yang lebih terbuka, dan ini membuat dinamika cinta segitiga menjadi lebih menarik.

Shin adalah tipe karakter yang mungkin tidak langsung menarik perhatian, tapi semakin lama ditonton semakin terasa kedalamannya. Dia adalah gangguan bagi dominasi Kizuki, dan membuat konflik romantis jadi lebih seimbang.

  • Airu dan Shugo: Karakter Pelengkap yang Tetap Punya Makna

Selain Kizuki dan Shin, ada juga karakter seperti Airu dan Shugo. Namun jujur saja peran mereka terasa lebih sebagai pelengkap dibanding pesaing utama, mereka memang punya hubungan masa kecil dengan Mizuho bahkan pernah menyatakan perasaan mereka. Tapi dalam konteks cerita utama, mereka tidak punya pengaruh sebesar Kizuki dan Shin. Meski begitu kehadiran mereka tetap penting untuk memperkaya dunia cerita, mereka menunjukkan bahwa Mizuho sudah menjadi pusat perhatian sejak lama bukan hanya di masa SMA. Ini memberi kesan bahwa hubungan mereka punya sejarah panjang, bukan sekadar cinta yang muncul tiba-tiba.

Satu hal yang harus aku akui tanpa ragu adalah: visual anime ini sangat bagus, desain karakter bersih, ekspresi wajah detail, dan penggunaan warna sangat mendukung suasana romantis dan nostalgia. Adegan-adegan di masa depan juga dibuat dengan tone yang berbeda lebih tenang, lebih dewasa yang memberi kontras dengan masa SMA yang penuh emosi. Ini membuat anime terasa lebih hidup dan punya identitas visual yang kuat. Bahkan ketika ceritanya terasa lambat, visualnya tetap membuatku betah menonton.

Sebagai penonton yang lebih terbiasa dengan harem biasa, aku merasa reverse harem punya dinamika yang berbeda. Fokusnya bukan pada fantasi penonton laki-laki, tapi lebih pada eksplorasi perasaan karakter utama perempuan. Ini bukan hal buruk, tapi jelas terasa berbeda aku bisa memahami kenapa banyak orang suka genre ini tapi untukku pribadi rasanya kurang relatable. Aku lebih sering merasa seperti pengamat, bukan bagian dari cerita.

  • Kesimpulan: Bagus Secara Teknis, Kurang Cocok Secara Personal

Anyway, I’m Falling in Love with You Season 1 adalah anime yang solid secara visual dan karakter. Ceritanya tidak buruk, dan punya pendekatan yang matang dalam menggambarkan cinta remaja dan nostalgia masa SMA. Namun sebagai seseorang yang baru pertama kali menonton reverse harem, aku merasa genre ini bukan yang paling cocok untukku. Ceritanya kadang terasa lambat dan emosinya tidak selalu sampai ke level yang membuatku benar-benar terikat.

Meski begitu aku tetap bisa menghargai kualitas produksinya, visualnya indah, karakternya punya identitas jelas, dan struktur flashback-nya memberi nuansa yang unik. Kalau kamu penggemar reverse harem, kemungkinan besar kamu akan menikmati anime ini. Tapi kalau kamu seperti aku yang lebih terbiasa dengan harem biasa, anime ini mungkin akan terasa lebih seperti pengalaman baru yang menarik tapi tidak sepenuhnya memikat.

Dan mungkin itu bukan hal yang buruk. Kadang, mencoba genre baru membantu kita memahami bahwa setiap cerita punya audiensnya sendiri.

Komentar